Minggu, 08 November 2009

Debu di sepanjang jalan

Kemarin, Sabtu 7 November 2009, saya kembali pulang ke rumah. Titik di atas sepetak tanah di mana saya lahir dan menjalani puluhan tahun perjalanan hidup saya. Pulang adalah melepaskan penat dengan bersandar pada kenangan.

Di sinilah, di sebuah rumah yang mulai memudar warna cat kuning ruang tamunya, saya pulang. Pintu kayu bercat hitam yang telah mengelupas sebagian catnya terbuka menyambut saya.

Ruangan persegi seluas 6x4 meter memberi saya kelonggaran untuk sejenak meletakkan semua beban yang terbawa pulang. Saya duduk, dan diam di atas sofa cokelat yang telah berusia hampir 15 tahun.

Pandangan saya segera terpaut pada debu yang melekat di atas kaca ruang tamu. Samar namun merata, sehingga kaca nampak buram.

Bergegas saya ke belakang, mencari kain lap. Setelah saya temukan didekat meja makan, kembali saya ke depan.

Kaca saya bersihkan dengan kain itu. Aneh, rasanya saya tidak mengusap permukaan kaca. Justru, desiran-desiran halus menelisik di dalam dada saya setiap kali kain menyentuh permukaan kaca.

Sejenak, saya berhenti. Dengan ujung telunjuk tangan kanan saya, permukaan kaca itu saya telusuri. Perlahan, dari tepian ke tepian.

Insyaflah saya, bahwa kaca itu sesungguhnya refleksi diri saya seutuhnya kini. Saya tetaplah tidak berubah, tidak kalis dari debu.

Hidup bagi saya tak ubahnya bagai lintasan jalan yang memungkinkan saya untuk melihat banyak hal disepanjang tepinya. Tapi akan kemanakah jalan itu berujung, tidak sedikitpun tersirat gambaran dalam benak saya.

Seringkali saya merasa, bahkan meyakini, bahwa saya melihat bayangan ujung jalan. Sayang, ketika saya menghampiri, itu tak lebih dari sekedar fatamorgana.

Terkadang saya merasa lelah, tapi tak sedetikpun bisa saya tepis dorongan untuk terus berjalan. Karena, kalau mau hidup ya terus saja jalan. Diam saja ditempat sama saja membunuh diri sendiri secara perlahan.

Maka teruslah saya berjalan, hanya karena keharusan untuk berjalan. Seringkali ada perempatan jalan yang membimbangkan saya akan arah. Namun, saya terus saja lurus berjalan.

Sekali lagi, bukan karena saya tahu tujuan langkah saya, melainkan karena saya tidak tahu ujung perjalanan saya. Maka, saya ambil gampangnya saja, berjalan lurus dan temukan segala apa yang bisa ditemukan.

Proses itulah yang membuat saya diterpa debu jalanan. Sebab, saya berjalan stagnan, lurus saja ditengah. Saya tidak pandai bermanuver, zig zag misalnya. Jadi, setiap datang hembusan angin berdebu yang bisa saya lakukan hanya menahan nafas saja.

Akhirnya, debu yang mengendap dipermukaan pakaian saya makin menebal seiring semakin jauhnya jarak yang saya tempuh. Dan, semakin lama semakin banyak pula debu yang merasuk hingga ke dalam diri saya.

Kulit saya berdebu, siapa yang menyentuhnya pastilah akan tercemar. Pandangan saya berdebu, tidak mampu lagi menatap sesuatu dengan jernih. Jari jemari saya berdebu, mencemari apa saja yang saya sentuh.

Debu disepanjang jalan telah menjadi permukaan diri saya.

Suara langkah dibelakang saya menyentak saya dari lamunan. Saya menoleh, di sana ada emak saya tercinta.

Saya tatap lekat-lekat sosok yang telah memasuki usia senja itu, bersih sekali, Sama sekali tidak ada debu menempel pada dirinya.

Segera saya hampiri dia, saya cium dengan takzim telapak tangan kanannya. Maaf emak, bungsumu ini turut membawa pulang debu di sepanjang jalan………………….

Sabtu, 10 Oktober 2009

D simple things remain

Ternyata, sejenak memalingkan wajah dari rutinitas banyak memberikan hal-hal yang menarik. Ini bisa menjadi semacam masa rehat guna menyegarkan fikiran yang mulai bebal membaca segala makna dibalik semua peristiwa.

Contohnya saja kemarin pagi, ada yang unik yang bisa membuat saya tersenyum sepanjang hari saat mengenangkannya kembali.

Kemarin itu, degan santainya saya memacu gas motor dipagi hari yang sudah dibuat panas oleh matahari. Ketika hampir mencapai tugu unila, sebuah angkot biru segera saja memikat pandangan mata saya.

Di kaca belakang angkot itu, tertera sebuah tulisan yang besar : Korban Kobel! Wuih, sebagai manusia yang telah menyaksikan berbagai berita pencabulan yg ditampilkan secara vulgar oleh media, segera saja terbit rasa iba dalam hati saya.

Tercetus pula dari mulut saya : met amet jabang bayi, mugo-mugo ora temurum anak putuku, yg bisa diartikan sbg sebuah doa semoga anak keturunan saya tidak mengalami peristiwa traumatik itu.

Dalam benak saya, juga langsung muncul wajah seorang lelaki pucat, bertubuh kurus yang sering terdiam dengan tatapan kosong saat melihat dedaunan jatuh dari pohon. Mengenangkan masa kecilnya yang bahagia.

Sayang, dalam hitungan detik, imajinasi ala film korea saya musnah seketika. Sopir angkot yang mulanya saya bayangkan begitu dramatis, ternyata lebih pas bercokol dalam benak orang-orang sadis.

Bung sopir itu ternyata lebih cocok jadi model video klip Ikang Fawzi yang berjudul Preman. Penampilan dan pembawaannya membuat saya takuuuuuttttttttt…iiihhhhh….
Dia adalah seorang pria berbadan cukup gempal. Kulitnya gelap, dilengan kanannya ada tato bleber, gambarnya si kalo ga salah uler naga.

Tato ini semakin sangar karena dia memakai satu anting besi ditelinga kanannya. Pokoknya tipe orang yg langsung bakal dapat duit goceng kalo nongkrong di pasar sambil mukul2 dada.

Disinilah saya menemukan adanya kontradiksi. Ada preman jadi korban kobel???
Trus kenapa dia majang tulisan itu gede2? Ini wujud traumanya, dendamnya, atau jangan2 sebaliknya? Justru ini cara dia menunjukkan kebanggaannya??

Mungkinkah??? Mampukah?? Benarkah???

Atau jangan-jangan dia tipe preman yang begini cara malaknya : iihhhh..bagi goceng dong bo’, cubit kanan kiri atas bawah lo kalo ga ngasih….

Rasanya, justru hal-hal semacam inilah yang memberikan nuansa manusiawi dalam keseharian saya kini. Tidak sekedar berisi kepasifan menunggu butiran-butiran pasir jatuh dalam bejana jam yang menandai waktu setiap harinya.

Tapi, ada juga sih terkadang beberapa peristiwa yang menyegarkan saya dalam rutinitas kerja. Meskipun itu tidak banyak.

Kiranya, jika harus menyebut salah satunya maka saya akan menyatakan bahwa satu ketika usai hari raya adalh peristiwa itu.

Ceritanya, saya tengah dalam proses untuk membuat satu tulisan tentang keramaian taman rekreasi saat hari raya. Maka, berangkatlah saya menuju salah satu taman rekreasi yang ada di Bandar Lampung.

Maksud dan tujuan saya sebenarnya Cuma ingin memantau suasana dan juga mendapatkan data angka tentang penambahan jumlah pengunjung. Itu saja cukup bagi saya.

Tpai, rupanya peruntungan saya tengah besar hari itu. Tak disangkan tak diduga, saya justru dapat kesempatan untuk bertemu dengan penyanyi dangdut tenar yang terkenal dengan goyang donatnya.

Siapa lagi kalau bukan :IRMA DHARMAWANGSA. Weleh, cuakep dan semlohai adalah dua kata yang cukup untuk mendeskripsikan gadis 26 tahun ini.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasa grogi bertemu dengan cewek. Saya menyesal kenapa pakai baju biasa aja hari itu, kenapa saya lupa menyelipkan sisir di kantong belakang celana saya.

Dan, kenapa saya lupa melatih vokal saya supaya saat berbicara ada semacam echo diujung kalimat saya layaknya Roma Irama. I wannabe a very dangdut man.
Dalam beberapa saat, saya bisa bercakap-cakap dengan mbak Irma. Ohhhh…suaranya seksi, begitu menggoda.

Dan, jujur saja, secara anatomis, ada bagian tertentu dari tubuhnya yang membuat saya ingin menyandarkan kepala saya dengan mesra.

Selanjutnya, tibalah saat yang paling membahagiakan. Saya semobil dengannya, mengantarkannya menuju ke panggung. Saat itu, saya meyakini bahwa diri saya lebih tampan daripada saipul jamil.

Akhirnya, setelah semua itu terlalui, saya hanya punya jeda demi jeda. Semacam momen untuk menunggu terjadinya kembali peristiwa-peristiwa seperti tersebut diatas. Sembari, menekan berbagai rasa bosan dan tidak nyaman.